Jangan bilang gw gak cinta bahasa Indonesia. Bahkan gw juga bukan pengguna bahasa indonesia yang baik dan benar. Bahkan nih, diantara bahasa-bahasa yang gw kuasai Jawa, Inggris, Indonesia, Arab (buat baca Quran doang), VB, Java, PHP dll (hehe lebay) cuma bahasa indonesia yang paling bagus. Tapi boleh donk kalo gw juga mengkritik bahasa Indonesia.
Begini, gw mengkritik bahasa Indonesia yang berkembang bebas tanpa batas dan buanyak penggunaan kata yang boros. langsung aja contohnya.
1. Babu.
Makin lama kata “babu” makin hilang. Dulu “Babu” umum dipakai, apa lagi di zaman penjajahan dulu. Babu yang artinya adalah Pembantu atau asisten rumah tangga menjadi berubah makna mengarah ke negatif Think. Coba aja temen-temen bilang ke pembantunya pakai kata-kata babu…bisa didemo para pembantu dikomplek atau dibilang rasis atau dibilang tidak cinta sama pembantunya (ya iya lah, orang ga cakep n dah tua).
Trus karena istilah ”Babu” jadi kasar, maka diperhalus jadi “Pembantu”. Sekarang kata-kata ini jadi umum digunakan, bahkan secara tidak sadar sudah di dekritkan untuk menjadi pengganti kata-kata “Babu” secara eksklusif. Repotnya, gw punya karyawan di perusahaan kecil mungil gw yang tugasnya membantu atau menggantikan pekerjaan gw. Trus gak mungkin donk gue beri jabatan ke dia sebagai Pembantu. Jadi terpaksa gue pakai kata “Asisten”. Hal ini mirip dengan istilah Pembantu Dosen. Sulit buat kita membedakan antara Babu Dosen dan Asisten Dosen.
Lalu sekarang, kalo kita dengar gosipan antara para ibu-ibu komplek, sudah mulai mengganti istilah Pembantu dengan istilah “Mbak”. karena lama-lama istilah pembantu juga bermakna negatif dan kasar. Trus gimana kalo gw memperkenalkan Kaka perempuan ke orang. Ini lho mbak gw yang paling tua….
Mungkin orang akan nyangka pembantu gw akan lebih dari satu. Oh maafkan gw ya mbak…
Ini belum kalo kita membahas Jongos dan kawan-kawan.
Alangkah sayang, kalo istilah Babu yang merupakan kata baku menjadi hilang.
2. Centeng.
Kemarin gue memanggil petugas keamanan dikantor gw memakai speaker/pager dengan memakai istilah “Satpam”. Langsung deh teman gw bilang, jangan pakai Satpam donk, pakai istilah sekuriti….
Weleh, masih untung gw ga pakai istilah Centeng.
3. Supir.
Sekarang supir di kantor gw juga ikutan lebay. Mereka maunya dipanggil Driver.
4. Penjara.
Penjara menjadi LP dan kayaknya akan diganti lagi.
5. Pelacur.
Nah ini dia yang paling seru. Coba bayangin teman-teman kalo presiden tercinta kita Bpk SBY (ya kan presiden cuma satu, harus kita sayang donk) pidato kenegaraan yang membahas para PSK, dengan menyebut mereka dengan istilah “Pelacur”. Pasti jadi hal yang kotroversi dan akan dibahas di media-media seperti Metrotv dan TVOne selama sebulan penuh.
Dulu kita mengganti pelacur dengan istilah WTS. lama-lama WTSpun jadi kasar. Lalu oleh para aktivis perempuan di ganti dengan PSK atau Pekerja Sek Komersial. Lho inikan sama aja.. bagi gw Pelacur ya pelacur. Kita sudah punya istilah yang baku kok diganti-ganti.
Masih banyak kata baku yang kita punya lalu diganti dengan kata lain yang sebenarnya tidak baku dan rancu. Hal lain, kata-kata tersebut juga bukannya satu kata, tapi terdiri dari dua atau leh kata. Kalo gak salah istilahnya kata majemuk.
Lain cerita kalo intu adalah kata-kata yang gak ada istilahnya dalam bahasa Indonesia. Seperti rumah sakit yang dalam bahasa inggris ada istilah Hospital.