Nengah dan neneknya berhenti di depan sebuah Pub. Terlihat pub tersebut sangat kontras dengan pub-pub dan toko sekitanya. Pintuya terbuat dari kayu dan terlihat seperti pub-pub abad pertengahan. Terdapat jendela kaca di bagian depan pub dan orang keluar masuk kedalam pub. Yang membuat aneh Nengah, orang-orang tersebut terlihat berbeda. Nengah langsung paham bahwa mereka adalah para penyihir. Nenek mengajaknya masuk kedalam Pub. Didepan mereka juga terdapat pasangan India dan seorang anak seumur dengannya. Masuk kedalam, ternyata keadaan cukup ramai. Terdapat banyak meja dengan beraneka macam pengunjung. Dari cewek-cewek modis yang mengobrol di ujung pub sampai orang tua yang berpakaian aneh di ujung yang lain. Neneknya mendatangi bartender sedangkan pasangan India dan anaknya langsung menuju pintu kesuatu ruangan.
“Hai….” teriak nenek ke bartender sambil menunjukan kertas berisi alamat.
“Ada apa Grandma…?” Tanya bartender dengan menggunakan bahasa Ingris.
Nenek Nengah yang tidak bisa berbahasa inggris tentu saja tidak menjawab dan hanya menunjukan kertas berisi alamat Diagon Alley.
“No English” katanya sekenanya.
Bartender lalu tersenyum… “Dasar Barbar” katanya… sambil menunjuk tangannya ke arah pintu yang tadi di masuki oleh pasangan India .
Nenek mengerti dan langsung bilang “Thank You”.
Nenek memanggil Nengah dan mengajaknya langsung ke Pintu tersebut. Memasuki pintu tesebut ternyata tidak seperti yang Nengah bayangkan. Ini bukanlah sebuah ruangan, tapi sebuah Lorong. Nengah berpikir ini pasti lorong dibelakang Pub. Ada tulisan Diagon Alley pada lorong tersebut. Dan mengertilah Nengah dimana dirinya.
Lorong tersebut cukup ramai. Banyak orang lalu lalang di jalan. Tapi keadaannya tidak seperti lorong-lorong yang ada di london kebanyakan. Disini keaadaannya sedikit kuno walaupun orang-orang yang datang ada yang terlihat berpakaian modern. Tapi yang terlihat kebanyakan menggunakan Jas seperti jas hujan atau berpakaian seperti seorang penyihir.
Nenek langsung mengajak Nengah jalan
“Kita cari toko tongkat sihir dan Galleon changer” kata nenek.
“Kita tidak punya Galleon, jadi harus menukar emas” lanjutnya.
“Kalo kita ke bank gringort, rate tukarnya jelek. Mending langsung ke Galleon changer. Tapi sebelum kesana kita ke toko tongkat dulu”.
Di depan toko Tongkat Sihir, Nenek berhenti sambil melihat tulisan Sale yang tertempel dikaca.
“Obral Murah beli 1 gratis 1” tertulis di tulisan tersebut.
Nenek mengajaknya masuk. Seorang penjaga tua menghampiri mereka.
“Tongkat apa yang mau dicari…?” tanya bapak itu sambil merapikan dagangannya.
“Nengah..! bilang ke dia kalo kamu cari tongkat yang murah…” perintah nenek ke Nengah untuk menterjemahkan dalam bahasa inggris.
“Tuan, Tolong carikan aku tongkat yang murah buat aku sekolah di Hogwart”. Kata Nengah.
“Kamu dari mana…?”. Balas bapak Itu….
“Dari Indonesia Tuan” jawab Nengah.
“Oh… Orang barbar… Sarang Teroris”.
“Kamu mau tongkat sihir apa…”
“Apa saja asal tidak mahal” kata Nengah.
“Tongkat, bukan karena murah atau mahal. Tongkat memilih tuannya”.
“Iya, tapi uang kami tidak cukup”
“Barbar…” gerutunya.
“Sini aku kasih tahu sesuatu” Bapak itu berbisik ke Nengah.
Nenek terlihat kebingungan dengan pembicaraan mereka.
“Pergilah ke ujung lorong. Di sana ada toko keperluan sekolah. Di sana kamu akan menemukan barang-barang keperluan sekolah yang dijual satu paket. Harganya murah sudah ada buku, Jas, Topi dan tentu Tongkat buat newbie”.
Nengah mengangguk dan langsung menarik neneknya.
“Nek, Kita akan cari di toko yang lain. Disini toko tongkat yang mahal” kata Nengah
“Juga kenapa sih harus pakai tongkat. Kenapa ga pakai tangan saja, kan Nengah bisa nyihir pakai tangan. Atau pakai keris seperti kalo kita di Bali.” Protesnya.
“Kenapa Nengah…?” tanya nenek.
“Dia bilang sebaiknya kita ke toko yang lain, ada yang jual satu paket”.
“Wah, bagus itu, kenapa tidak dari tadi saja”. Jawab nenek senang. Tentu itu akan menghemat emasnya.
Nengah masuk kedalam toko. Tokonya tidak besar, dan tidak tertata rapi. Kesan kumuh dan berdebu terlihat jelas. Nengah bertemu dengan pasangan India yang tadi bertemu di Pub. Mereka juga mencari peralatan sekolah. Selain dia dan pasangan India tersebut, juga ada seorang ibu (bule) dengan anaknya. Anak tersebut sama tingginya dengan Nengah, jerawatan, rambutnya abu-abu dan bergigi agak tonggos. Sangat berbeda dengan anak India yang berkulit gelap, berbadan gemuk dan lebih pendek.
Ibu bule tersebut sedang menimbang-nimbang barang yang mereka perlukan. Dalam satu paket terdapat Buku, jubah, topi, tongkat berwarna hitam berujung kuningan dan voucer untuk mendapatkan burung hantu. Tongkat tesebut berbeda dengan tongkat yang di pajang di toko tongkat yang umumnya terpelitur, tongkat ini seperti di dempul dan di cat duco.
“Oke aku ambil satu” kata ibu itu.
Seorang wanita langsung melayani ibu tersebut. “Atas nama siapa Bu tanya penjaga itu”
“Tommy Corgan” jawab dia.
“Oke Bu, Saya buatkan receive buat pengambilan Burung Hantu dulu.”
“Miss”, kata si bapak India “Saya juga ambil satu, atas nama Aakash Gogoi.”
“Oke Pak. Apa Nenek juga mau sekalian..?” Tanya perempuan itu kepada Nenek Nengah.
Nenek Nengah yang tidak menduga di tanyai langsung bingung.
“Nek, apa kita mau ambil itu juga…?” tanya Nengah ke neneknya.
“Iyes..Iyes…” jawab nenek ke perempuan itu dengan sok bisa berbahasa inggrisnya.
“Yes Miss.. “ “Kami ambil itu juga atas nama Nengah Mantera” Nengah menjelaskan lebih lanjut.
“Wah kalian akan pergi ke sekolah yang sama rupanya” kata perempuan itu.
Nengah, Tommy dan Aakash tersenyum bersamaan.
Lalu pasangan India dan ibu bule tersebut bergantian bersalaman sambil mengenalkan diri. Tidak ketinggaln Nenek ikut nimbrung memperkenalkan diri.
Ini adalah awal pertemuan Nengah dengan sahabatnya di Hogwarts nantinya.





